
Matahari telah ditelan kegelapan ketika Stella merapatkan mantel beludrunya dengan erat. Stella melirik jam lagi, 11 A.M. Dia menghela napas berat untuk ketiga kalinya.
Gedung stasiun radio tempat dia bekerja kini perlahan-lahan menjadi tenang, lampu-lampu mulai dimatikan, dan ada seorang gadis berdiri di depan bangunan yang tampak menggigil. Cemas, dingin, sendirian.
"Berapa lama yang Noah butuhkan untuk datang dan menjemput dirinya?"
Bisikan itu terus muncul di kepalanya, karena Stella tahu menunggu yang merupakan salah satu hal yang paling dia benci.
"Yo."
Stella menoleh ke belakang. Tidak sengaja, tanpa persiapan, suara itu sekejap membuat nafasnya tertahan, dan tiba-tiba dadanya terasa berat. "
Ardan. "
"Menunggu seseorang?" Lelaki jangkung berkemeja biru itu tersenyum manis, kesepuluh jemarinya dijejalkan ke dalam saku jaketnya. Langkahnya bergerak maju ke arah Stella, dan berhenti tepat di sampingnya. "Noah, benar kan?"
Stella tersenyum pahit. Paru-parunya semakin sulit untuk mendapatkan oksigen, terlalu sesak jika dia berduaan bersama Ardan. "Ya. Kalau kamu?"
"Seperti biasa, Katherine. Dia masih mengurus sesuatu sebentar, di dalam."
"Ah, ya." Stella mengatakan dengan suara serak dan kemudian terbatuk, tepat sebelum suasana canggung menyelimuti percakapan singkat mereka.
Dia melihat Ardan lagi. Dia bertanya-tanya bagaimana aneh dunia ini. Semua orang berubah, termasuk dirinya sendiri. Tapi Ardan masih tetap sama. Semua yang ada padanya masih sama, sampai hal-hal detail yang paling dalam dirinya. Kecuali satu, gadis yang ia cintai sekarang.
Pertama Stella, sekarang Katherine.
(Pertama Ardan, sekarang Noah. Nyatanya Stella juga begitu.) Awal mereka begitu manis, dan akhirnya—tepat yang seperti Stella bayangkan—itu akan berakhir dengan perpisahan pahit.
Tanpa sepatah kata, ia tidak pernah kembali. Stella bahkan tidak ingat lagi. Memori pahit-manis yang mereka alami dulu dikuburkan begitu mendalam, mengabur. Seiring dengan waktu yang selalu bergerak konstan, semuanya berubah, termasuk Stella.
“Dah, Stella!" Katherine melambaikan tangannya dan masuk ke mobil Ardan. Sementara lelaki itu hanya tersenyum.
Senyum selamat tinggal. Selamat tinggal untuk semua kenangan hal yang mereka telah melewati bersama dalam beberapa bulan. Selamat tinggal untuk kisah cinta yang telah usang untuk waktu yang lama, tapi baru berakhir saat ini.
Semua kekuatan dan keberanian yang Stella miliki demi menyembunyikan kesedihan, akhirnya runtuh. Dia menangis, menangis, dan menangis.
Dan kemudian dia melihat di pintu gerbang, sebuah mobil dengan klaksonnya yang terus berbunyi tak sabar. Noah, ia berpikir. Stella terkekeh. Air matanya berhenti, dan dia mengambil napas dalam-dalam. “NOAH!!!”
Akhirnya Stella membiarkan semua kenangan lamanya tinggalkan dan tidak pernah mengikutinya lagi. Tidak akan pernah.
(Karena Stella tidak sendirian lagi sekarang.)
P.S: Postingan ini sudah pernah di-translate menjadi fanfiction Inggris disini dengan tokoh Super Junior & SNSD. Makasih :)