7.02.2011


You can never have too much sky. You can fall asleep and wake up drunk on sky, and sky can keep you safe when you are sad. Here there is too much sadness and not enough sky. Butterflies too are few and so are flowers and most things that are beautiful. Still, we take what we can get and make the best of it.

- The House on Mango Street (Sandra Cisneros)


The problem is, i have too many sadness; i have too many problems, too few happiness, just such a little time, and many people always forces me to fake a smile and laugh.

That doesn't make me happy, of course. But i still don't want to blame them. I don't want to blame anybody in this world, even God—such a big no! Because i know this is life. Life doesn't go like what you want, life doesn't stop for anybody, life is life, and we have to realize we must deal with it.

I have many problems, but i know many people has more than me, so i don't protest about it with everyone, i just protest in my mind so nobody doesn't feel i'm an annoying person.
I know, how much i try become a nice one, there will be some people that always hates me, and again, i try to deal with it.

I just want to be happy.

I love happy ending, but now, i love neverending.

I don't want to die, i just want to be saved.

I don't want to drowning, but i do that all the time.

Please please please please, can i just be happy everyday?

10.18.2010

#3 - beautiful quote


I. MUST. REMEMBER. THIS. EVERYTIME.

source: tumblr

10.17.2010

#2 - desktop


Introduce myself: I'm a PRIMADONNA now :D

10.09.2010

Review: FATE by Orizuka

Judul: FATE (Saat Nasib Mempertemukan Kita)
Penulis: ORIZUKA
Penerbit: Authorized Books
Tahun: 2010
Hal.: 293

Jang Min Ho, 25 tahun, bekerja sebagai jurnalis di Manhattan--New York. Dia mendengar kabar bahwa Ayahnya--Jang Dae Gwan--telah meninggal, mengikuti Ibunya yang sudah duluan pergi. Dia dipanggil kembali ke tanah air untuk mendengar surat wasiat Ayahnya.

Sementara itu, Jang Min Hwan, 23 tahun, bekerja di salah satu toko baju di distrik Dongdaemun, Seoul. Juga mendapat kabar serupa, dan dipanggil juga untuk datang ke Indonesia.

Min Ho terlahir sebagai anak dari istri sah, mewarisi setiap sifat dari Ayahnya; bijaksana, tegas, dan mencintai keluarga.

Sedangkan Min Hwan? Tak ada satu hal pun yang dapat membuktikan bahwa dia seorang Jang, kecuali DNA. Terlebih lagi dia masih membenci keluarga itu karena masa lalu yang menyakitkan. 15 tahun yang lalu, Min Hwan ditarik dari Korea dan harus tinggal di Indonesia, kemudian setelah dirinya yang pendiam berubah dan mau membuka diri, ibu tirinya mengusirnya pulang ke Korea. Dan kini, atas permintaan sang ayah dia harus kembali lagi ke rumah itu. Rasa dendam dan kebencian yang sudah terkubur itu bangkit kembali, meluap-luap.

"Aku ini apa? Bola ping pong? Kalian mengambilku, lalu membuangku, sekarang mengambilku lagi?"

"Hyeong mewarisi sifat-sifat Abeoji, sedangkan aku? Aku nyaris dianggap supirmu kalau namaku tidak bermarga Jang!"

Semua orang tahu bagaimana rasa sakit Min Hwan, termasuk Min Ho. Tapi tetap saja sekalipun mereka merasa simpati, Min Hwan terlalu susah untuk kembali lagi seperti dulu. Untung ada Adena, anak dari kepala pelayan, sekaligus teman kecil mereka berdua. Dengan segala cara, meskipun harus dibentak dan dibuli, Dena tetap bersikeras untuk mendamaikan kedua saudara itu. Karena hanya Dena lah yang bisa. Perlahan, Min Hwan berubah.

Namun di saat itu, masalah baru muncul kembali. Masalah yang ditutupi selama Min Hwan hidup, masalah yang terkuak dan melahirkan dendam baru, masalah dengan nasib.

Nasib.

Ketetapan Tuhan.

Sesuatu yang tidak bisa diubah dengan tangan manusia.

Membaca kilat buku ini hanya dalam waktu dua hari, hohoho ^o^ Saya pikir novel ini bakal mirip seperti K-Drama Bread, Dream, and Love karena sama-sama punya ayah kandung, ibu tiri, saudara tiri yang bertemu saat dewasa, dan teman masa kecil. Dan rasanya begitu banyak kejadian di novel ini yang membuat saya ingin baca lagi, tidak seperti novel lain yang biasanya langsung saya taruh di rak karena malas dibaca.

Pertama kali saya baca novel Orizuka, hanya satu; Summer Breeze. Itu pun karena rekomen dari teman. Saya suka dengan novel tersebut, meskipun sudah menangis membacanya tapi entah saya tidak pernah mencari tahu novel lainnya dari pengarang yang sama.

Sampai beberapa minggu lalu saya melihat review dari blog lain, dan tertarik membacanya--apalagi ada unsur-unsur Korea di dalam buku itu :) Well, bahasanya yang sederhana dan alurnya yang mengalir cukup membuat pembaca nyaman membaca ceritanya yang mungkin endingnya agak 'sedikit' berat, hampir sama seperti Summer Breeze.

Membaca 'Thanks To' dan melihat ada Min Ho SHINee dan Min Hwan FT. Island yang ternyata adalah inspirasi sang penulis, dengan mudah saya bisa membayangkan semua peristiwa di novel ini. Tokoh-tokoh yang benar-benar digambarkan hampir seperti nyata, sekalipun itu Jang Dae Gwan (si provokator masalah ini) yang sudah tidak ada, dapat dilihat tersirat dari pembicaraan tokoh di novel ini.

Overall, mendengar novel ini adalah karya 'comeback' Orizuka, saya puas dengan hasilnya yang begitu matang dan tidak seperti novel terjemahan walaupun mengandung banyak unsur-unsur luar negeri. O ya, di belakangnya terdapat kamus mini yang biasanya kita sering dengar di K-Drama lho ;)


For this novel, i give ★★★★

10.02.2010

#1 - moving on.




Matahari telah ditelan kegelapan ketika Stella merapatkan mantel beludrunya dengan erat. Stella melirik jam lagi, 11 A.M. Dia menghela napas berat untuk ketiga kalinya.

Gedung stasiun radio tempat dia bekerja kini perlahan-lahan menjadi tenang, lampu-lampu mulai dimatikan, dan ada seorang gadis berdiri di depan bangunan yang tampak menggigil. Cemas, dingin, sendirian.

"Berapa lama yang Noah butuhkan untuk datang dan menjemput dirinya?"

Bisikan itu terus muncul di kepalanya, karena Stella tahu menunggu yang merupakan salah satu hal yang paling dia benci.


"Yo."

Stella menoleh ke belakang. Tidak sengaja, tanpa persiapan, suara itu sekejap membuat nafasnya tertahan, dan tiba-tiba dadanya terasa berat. "Ardan. "

"Menunggu seseorang?" Lelaki jangkung berkemeja biru itu tersenyum manis, kesepuluh jemarinya dijejalkan ke dalam saku jaketnya. Langkahnya bergerak maju ke arah Stella, dan berhenti tepat di sampingnya. "Noah, benar kan?"

Stella tersenyum pahit. Paru-parunya semakin sulit untuk mendapatkan oksigen, terlalu sesak jika dia berduaan bersama Ardan. "Ya. Kalau kamu?"

"Seperti biasa, Katherine. Dia masih mengurus sesuatu sebentar, di dalam."

"Ah, ya." Stella mengatakan dengan suara serak dan kemudian terbatuk, tepat sebelum suasana canggung menyelimuti percakapan singkat mereka.


Dia melihat Ardan lagi. Dia bertanya-tanya bagaimana aneh dunia ini. Semua orang berubah, termasuk dirinya sendiri. Tapi Ardan masih tetap sama. Semua yang ada padanya masih sama, sampai hal-hal detail yang paling dalam dirinya. Kecuali satu, gadis yang ia cintai sekarang.

Pertama Stella, sekarang Katherine.

(Pertama Ardan, sekarang Noah. Nyatanya Stella juga begitu.)

Awal mereka begitu manis, dan akhirnya—tepat yang seperti Stella bayangkan—itu akan berakhir dengan perpisahan pahit.

Tanpa sepatah kata, ia tidak pernah kembali. Stella bahkan tidak ingat lagi. Memori pahit-manis yang mereka alami dulu dikuburkan begitu mendalam, mengabur. Seiring dengan waktu yang selalu bergerak konstan, semuanya berubah, termasuk Stella.


“Dah, Stella!" Katherine melambaikan tangannya dan masuk ke mobil Ardan. Sementara lelaki itu hanya tersenyum.

Senyum selamat tinggal. Selamat tinggal untuk semua kenangan hal yang mereka telah melewati bersama dalam beberapa bulan. Selamat tinggal untuk kisah cinta yang telah usang untuk waktu yang lama, tapi baru berakhir saat ini.

Semua kekuatan dan keberanian yang Stella miliki demi menyembunyikan kesedihan, akhirnya runtuh. Dia menangis, menangis, dan menangis.


Dan kemudian dia melihat di pintu gerbang, sebuah mobil dengan klaksonnya yang terus berbunyi tak sabar. Noah, ia berpikir. Stella terkekeh. Air matanya berhenti, dan dia mengambil napas dalam-dalam. “NOAH!!!”



Akhirnya Stella membiarkan semua kenangan lamanya tinggalkan dan tidak pernah mengikutinya lagi. Tidak akan pernah.

(Karena Stella tidak sendirian lagi sekarang.)


P.S: Postingan ini sudah pernah di-translate menjadi fanfiction Inggris disini dengan tokoh Super Junior & SNSD. Makasih :)